Sampul Novel Aku Miskin, tapi Bohong

Aku Miskin, tapi Bohong

8.2 / 10.0
Dalam Aku Miskin, tapi Bohong, Maya menyembunyikan identitas aslinya sebagai pewaris kaya. Namun, Dirga hanya mengincar hartanya. Maya harus memilih antara kebebasan atau bertahan demi orang tercinta dalam billionaire romance novel yang penuh intrik ini. Baca webnovel ini sekarang.
Ringkasan Aku Miskin, tapi Bohong
Maya adalah pewaris kaya yang memilih menyembunyikan identitas aslinya, namun ia justru mendapat perlakuan kejam dari mertua dan suaminya sendiri. Dirga, sang suami yang dahulu memohon untuk menikahinya, ternyata hanya mengincar harta tabungan Maya dan meremehkannya. Meski menderita, Maya terpaksa bertahan demi melindungi sosok yang ia cintai. Akankah ia mampu melepaskan diri dari belenggu keluarga Dirga, atau selamanya terjebak menjadi budak mereka?
Baca Selengkapnya

Aku Miskin, tapi Bohong Bab 1

"Sedang apa kamu di sini? Tuh cucian masih numpuk!" seru ibu mertuaku saat aku tengah duduk di dekat pintu.

Sudah sekitar lima bulan sejak pernikahanku dengan Bang Dirga dilaksanakan, aku dengan terpaksa harus ikut tinggal di rumah mertuaku. Bagaimana tidak terpaksa jika saja di rumah ini aku diperlakukan layaknya pembantu. Belum lagi aku juga harus bekerja untuk perekonomian keluarga ini. Belum cukup penderitaanku hanya di situ, setiap gaji yang harusnya aku dapatkan malah diambil alih oleh Bang Dirga dan diserahkan kepada ibunya yang ingin selalu terlihat modis.

"Aku capek, Bu. Istirahat sebentar ya," pintaku memelas.

"Tidak ada istirahat-istirahatan. Ini sudah siang sebentar lagi kamu kerja. Kalo kerjaan rumah gak beres siapa yang mau beresin. Ibu mana mau mengerjakan kerjaan pembantu seperti itu," tukas ibu mertuaku.

Bagi Ibu dan kakak iparku, mengerjakan pekerjaan rumah itu hanya pantas dilakukan oleh seorang pembantu. Jadi meskipun mereka menganggur dan hanya ongkang-ongkang kaki mereka tidak akan sudi untuk mengurus rumah ini.

"Kalo pekerjaan rumah belum selesai kamu gak boleh berangkat kerja. Kamu harus selesaikan pekerjaan rumah dulu baru boleh kerja." Ibu melotot kepadaku.

"Tapi, Bu kalo gak kerja aku gak dapat uang," aku menunduk. Menyembunyikan raut kesalku agar ibu mertuaku tidak mengetahui itu.

Aku ingin agar ibu hanya mengetahui bahwa aku menantu yang lemah dan penurut sebelum akhirnya akan kuberi kejutan yang mengesankan.

“Halah sok gaya kamu, kayak gaji berapa aja. Cuma pegawai biasa aja belagu sok-sokan mau datang tepat waktu,” kata ibu mertuaku penuh cibiran. “Dibayar berapa kamu sama bos di tempat kerja kamu sampe suka banget datang tepat waktu kayak gitu? Untuk kebutuhan kamu satu bulan saja kurang udah berani ngelawan, Ibu. Makanya cari kerja tuh yang bener. Yang gajinya gede jadi bisa bayar pembantu buat urusin rumah. Masa ibu yang urusin rumah, bisa kasar nanti tangan ibu,” sambung ibu mertuaku.

Gaji dengan posisi karyawan sepertiku saat ini memanglah sedikit. Hanya mampu menutupi kebutuhan rumah tangga satu bulan. Itupun harus pandai berhemat. Tapi seharusnya itu menjadi hakku seratus persen bukan. Kebutuhan rumah tangga itu seharusnya di tanggung oleh suami tapi di sini akulah yang harus jadi tulang punggung keluarga ini. Mengabdikan waktu dan tenaga untuk kebutuhan seisi rumah.

"Cepetan kerjakan, atau kamu tidak ibu kasih makan untuk hari ini," ancam ibu.

"Ba-baik, Bu," ucapku seraya berlalu ke tempat dimana setumpuk cucian telah menantiku.

Bukanya aku lemah dengan tidak pernah melawan setiap perlakuan mereka terhadapku. Tidak, aku bisa membalasnya dengan mudah hanya saja aku ingin melihat sampai mana mereka bisa merendahkanku seperti ini. Toh tanpa mereka pun aku masih bisa hidup dengan layak bahkan sangat jauh dari kata layak.

"Nanti kamu gajian kan, May?" tanya kakak iparku saat aku tengah mencuci baju miliknya.

"Iya, Mbak," jawabku tanpa menoleh kepadanya.

"Nanti kasih ke aku lima ratus ya jangan kasih ke Ibu semua. Aku perlu uang untuk beli baju couple dengan suamiku," Mbak Sinta berujar dengan penuh penekanan.

"Tapi, Mbak. Semua gajiku di kirim ke rekeningku sedangkan kartu ATM ku saja di pegang Bang Dirga," jujurku karena memang demikian meskipun aku masih memiliki kartu ATM yang lainnya. Yang tak seorangpun tahu.

Sejak menikah dengan Bang Dirga lima bulan lalu memang aku sudah tidak pernah lagi mengetahui dimana kartu ATM dan tinggal berapa uang yang ada di dalamnya.

Dulu sebelum aku menikah dengan Bang Dirga aku memiliki tabungan yang lumayan di rekeningku. Bahkan aku bisa menggunakan uang gajiku untuk memenuhi kebutuhan serta menabung sedikit demi sedikit untuk kebutuhan yang akan datang. Tapi, setelah aku menikah dengan Bang Dirga dengan paksa Bang Dirga mengambil buku rekening serta kartu ATM ku.

"Kamu minta sama Dirga lah," sinis Mbak Sinta kearahku.

Bagaimana aku akan meminta uangku pada Bang Dirga sedangkan untuk makanku saja sering kali hanya menggunakan mie instan dengan alasan harus mengirit dan setiap makanan enak di rumah ini di simpan di lemari dan kuncinya ibu yang menyimpannya.

"Bukankan Mbak selalu mendapatkan jatah dari Bang Dirga setiap bulannya. Mengapa meminta lebihan, Mbak?" tanyaku karena memang setiap Bang Dirga gajian Ibu dan Mbak Sinta, kakak iparku selalu di berikan jatah bulanan yang lumayan besar.

"Di mintain uang segitu aja pelitnya minta ampun kamu, May. Dasar orang miskin gaji secuil aja belagu. Besok kalo aku punya uang lebih dari gaji kamu gak akan sudi aku pake uang kamu lagi," ucap Mbak Sinta geram. Ku lihat wajahnya mulai memerah menahan emosi.

Memangnya dia siapa seenak jidatnya saja meminta uang padaku. Dia pikir gampang apa cari uang. Aku saja yang kerja ingin segala sesuatu harus di tunda dulu. Bukan karena uang tapi karena sebuah alasan.

"Heh, Babu. Nyucinya cepetan dong. Mau terlambat kamu ke tempat kerjamu?" seru ibu berjalan dari arah dapur menghampiriku.

Aku sudah biasa di panggil Babu atau sejenisnya di rumah ini. Mungkin namaku hanya mereka sebut saat mereka memerlukan uangku. Selebihnya hanya panggilan-panggilan tak mengenakan hati yang mereka sematkan untukku.

Aku bergegas menyelesaikan cucianku mengingat hari sudah semakin siang. Buru-buru aku bersiap tidak ingin terlambat bekerja hari ini. Biarlah perutku lapar. Aku bisa mengisinya nanti di tempat kerja yang terpenting aku bisa datang tepat waktu.

Aku membangunkan Bang Dirga dan menyiapkan semua kebutuhan dia untuk berangkat bekerja. Memang dia merupakan seorang karyawan pada salah satu bank swasta tapi sifat pemalasnya membuat Bang Dirga acap kali datang terlambat dengan menggunakan berbagai alasan yang akan di pakainya untuk mengelabuhi atasannya.

"Bang, bangun ini sudah siang. Aku mau berangkat bekerja. Seragam dan makanan untuk sarapan sudah aku siapkan."

"Apaan sih, ganggu aja. Aku masih ngantuk," gumam Bang Dirga dalam tidurnya.

Memang semalam Bang Dirga menonton siaran laga sepak bola sampai pagi buta. Mungkin karena itulah Bang Dirga masih sangat mengantuk untuk saat ini.

"Kamu harus kerja, Bang ini sudah siang," ucapku lagi sambil menggoyangkan tubuhnya. Berharap Bang Dirga akan segera bangun dan aku bisa berangkat bekerja.

"Udahlah sana berangkat. Bisanya cuma mengganggu saja kamu jadi istri," Bang Dirga mendorongku sampai aku tersungkur ke belakang

"Astagfirullah," ucapku mengelus dada.

"Jadi istri yang berguna sedikit kenapa sih. Sudah kerja gaji pas-pasan. Muka pas-pasan, penampilan gak ada menarik-menariknya. Miskin pula!" ucap Bang Dirga sambil memiringkan tubuhnya membelakangiku

Apa katanya tadi. Muka pas-pasan dan penampilan gak ada menarik-menariknya. Dia pikir dulu siapa yang ngejar-ngejar sambil mohon-mohon untuk di terima cintanya. Kalo bukan karena kasihan juga aku ogah mau nikah sama dia. Apalagi jika tau sifat aslinya seperti ini.

Ku langkahkan kaki keluar dari kamar membiarkan Bang Dirga yang masih terlelap. Bodo amat lah jika Bang Dirga kena omelan nanti di kantor. Kan aku sudah membangunkannya. Dia nya saja yang tidur seperti kerbau. Menjengkelkan!

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Aku Miskin, tapi Bohong

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Adhiti
9.6
Adhiti menjalani keseharian tanpa menyadari bahwa sang ayah menyembunyikan tragedi kelam dari masa lalunya. Takdir kemudian membawanya bertemu seorang pria penuh luka dan kebencian yang ternyata terikat erat dengan rahasia hidupnya. Saat tabir kebenaran mulai tersingkap, Adhiti dipaksa menghadapi kenyataan pahit. Cinta yang tumbuh di antara mereka kini terancam hancur oleh beban masa lalu yang tak pernah ia pilih, namun harus ia tanggung sendiri.
Sampul Novel Cahaya di Antara Bayang-Bayang
8.7
Amir terjebak dalam hampa meski rutin beribadah di bulan Ramadan. Hidupnya berubah usai bertemu Sheikh Ibrahim, guru spiritual misterius yang membimbingnya keluar dari kegelapan. Di tengah atmosfer religius, ia menghadapi ujian iman yang berat. Pertemuannya dengan anak jalanan dan wanita misterius memberinya pelajaran mendalam tentang cinta serta pengorbanan. Ini adalah kisah inspiratif tentang transformasi batin dan pencarian makna hidup yang penuh cahaya.
Sampul Novel En-PD159
7.9
Song Jiayan terjebak pernikahan aliansi dengan Fu Shisheng demi menebus rasa bersalah atas kecelakaan masa lalu. Namun, ia dikhianati saat tahu suaminya hanya berpura-pura sakit dan justru berselingkuh. Setelah selamat dari serangkaian percobaan pembunuhan, Jiayan bangkit menjadi CEO sukses di luar negeri. Meski Shisheng mengejarnya dengan penyesalan mendalam, Jiayan memilih melepaskan dendam, fokus pada misi kemanusiaan, dan memulai hidup baru yang mandiri.
Sampul Novel Istri Pertama Dengan Jendela Kaca
9.5
Lima tahun dipoligami, Elsa berpura-pura tegar demi biaya sekolah adik-adiknya. Di mata Delon dan madunya, Ika, Elsa adalah sosok ikhlas yang sempurna. Namun, di balik senyum itu, ia memendam luka akibat kemandulan dan rasa sakit melihat kebahagiaan suaminya dengan wanita lain. Lebih tragis lagi, Elsa menyembunyikan kanker mematikan yang perlahan menghancurkan tubuhnya. Ia bagai jendela kaca yang tampak utuh namun rapuh, menunggu waktu hingga segalanya pecah berkeping-keping.
Sampul Novel Karena Aku Ingin Mati, Aku Jadi Belok
8.2
Gala adalah pria yang dihantui rasa takut akan luka emosional, sementara Lingga merupakan sosok haus popularitas yang justru membenci sanjungan. Di balik topeng kemunafikan, keduanya terjebak dalam hubungan penuh ancaman dan pemerasan untuk meraih kebahagiaan semu. Kolaborasi antara jiwa yang fasik dan munafik ini melahirkan dinamika cinta yang destruktif, di mana mereka saling menyakiti demi memuaskan hasrat batin serta obsesi gelap masing-masing.
Sampul Novel Kau Bukan Sahabatku-Kau Perusak Rumah Tanggaku
9.5
Putri Wijaya mengira empat tahun pernikahannya dengan Dimas Satria, seorang CEO sukses, adalah kebahagiaan yang sempurna. Namun, dunia wanita cerdas dan lembut ini runtuh seketika saat sebuah video membongkar pengkhianatan suaminya. Dimas ternyata telah menikah lagi secara diam-diam dengan Rina, sahabat yang sudah dianggap Putri seperti adik sendiri. Di tengah hancurnya kepercayaan, Putri harus menghadapi kenyataan pahit bahwa orang terdekatnya adalah perusak rumah tangganya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan