Sampul Novel Balik Kanan Duda

Balik Kanan Duda

9.6 / 10.0
Dalam novel Balik Kanan Duda, Indira harus menghadapi Damian setelah insiden tak terduga. Terjebak perjodohan orang tua di tengah luka masa lalu, Indi dipaksa memilih antara benci atau takdir. Baca romance novel ini di webnovel untuk mengikuti perjalanan cinta mereka yang rumit.
Ringkasan Balik Kanan Duda
Damian Kusuma tak menyangka pertemuannya kembali dengan Indira Pramesti berakhir dalam pergulatan gairah saat ia mabuk. Indi yang merasa terhina bersumpah untuk menjauhi pria itu selamanya. Namun, takdir berkata lain ketika hubungan Indi dan kekasihnya, Rangga, kandas di tengah jalan. Orang tua mereka justru menjodohkan Indi dengan Damian. Kini, Indi terjepit di antara rasa benci dan keharusan menuruti perintah orang tuanya untuk menikahi Damian.
Baca Selengkapnya

Balik Kanan Duda Bab 1

“Tidak pernah kusangka. Rupanya kamu memang senikmat ini.” Suara berat yang tengah mendorong lebih dalam tubuh Indi menggeram karena nikmat yang tiada kentara.

Damian Kusuma—pria tampan, pengusaha muda yang usianya baru menginjak dua puluh delapan tahun tengah menggerayangi tubuh Indira Pramesti—perempuan cantik berusia dua puluh enam tahun yang sudah lama ia kagumi sejak masih duduk di bangku kuliah.

Sudah lama menjadi duda membuatnya bersemangat menyetubuhi tubuh wanita yang dia kagumi itu. Tidak peduli bila nanti Ind—sapaan perempuan itu mencaci makinya setelah sadar dari mabuknya kelak.

“Arrgghh!” pekik Indi kala pria itu kembali mendorong dirinya di bawah sana. Desahan dan erangan terdengar dengan jelas di kamar tersebut.

Dalam keadaan teler, tidak tahu siapa yang sedang menyetubuhinya, Indi hanya menikmati sentuhan nikmat itu. Damian yang sudah tergila-gila sejak lama kepada perempuan itu lantas menghantamnya tanpa ampun. Peluh keringat pun sudah bercucuran membasahi kain sprei yang menjadi alas senggama kedua insan itu.

Damian yang sudah merindukan bercinta itu lantas sangat menikmati seruan akan desahan yang dikeluarkan oleh Indi.

“Kapan selesainya ini, huh?! Aku sudah tidak tahan lagi,” pekik Indi dengan suara beratnya. “Tubuh ini .. eemmpt …!” Indi tak kuasa menahan permainan panas yang dibuat oleh Damian kepadanya.

“Kamu sudah sampai, heum?” tanya Damian dengan suara lembutnya.

Indi hanya mengangguk. Sementara Damian kembali mendorong tubuhnya hingga suara percikan percintaan itu terdengar begitu jelas. Tubuhnya mengejang seketika bersamaan dengan keluarnya peluh nikmat itu di bawah sana.

“Capek!” keluh Indi seraya mengatur napasnya. Kemudian tak sadarkan diri sebab mabuk yang masih terasa dalam dirinya.

“So beautiful. Akhirnya, kita bertemu kembali, Indi. Sudah sejak lama kita tidak pernah bertemu, akhirnya kembali bertemu sekaligus mendapat tubuh indahmu ini,” ucapnya seraya menyentuh kulit putih yang masih polos tersebut.

“Jangan takut, Indi. Aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Aku akan menunggumu sampai sadar, dan mengatakan kalau kita baru saja tidur bersama. Membelah malam dengan suara teriakan dan desahan yang kamu keluarkan.”

Damian memilih untuk istirahat di samping Indi yang sudah terlelap dalam tidurnya.

**

Waktu sudah menunjuk angka sembilan pagi. Pengar itu masih sangat terasa di kepalanya sebab mabuk semalam.

“Arrgh! Tubuh gue kenapa pegal-pegal. Mimpi apa gue, semalam,” gumamnya seraya menyibakkan rambutnya dengan pelan. “Heeuuh!”

Indi baru sadar. Ini bukan kamar tidurnya. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu dengan cepat.

“Di mana ini?” tanyanya panik. Lalu, tersadar juga bila dirinya tidak mengenakan apa pun. “Kenapa gue nggak pake baju. Pusaka gue juga sakit banget.” Indi benar-benar tak sadar apa yang telah dia lakukan semalam.

“Morning!” Damian menyapa perempuan itu dengan tubuh yang hanya dililit handuk sepinggang.

Indi mengerutkan keningnya. “Da … mian?” gumamnya seraya mengucek matanya. Lalu membolakan matanya karena terkejut. “Damian … ngapain lo di sini?” teriaknya kemudian.

Damian mengendikan bahunya. “It’s my room. Masih belum ingat, kejadian semalam?” tanyanya seraya menatap mata itu dengan lekat.

“Jangan mendekat!” seru Indi seraya menatap tajam wajah tampan milik lelaki itu. “Kenapa gue ada di kamar elo? Apa yang terjadi kemarin malam? Kita ….” Indi tak mampu meneruskan ucapannya itu.

Damian mengangguk santai. “Semalam kamu mabuk. Ngoceh nggak jelas, karena nggak ada temen yang nungguin kamu, akhirnya aku bawa aja ke apartemenku,” tuturnya menjelaskan.

“Apartemen? Di sini?” tanya Indi sembari menjambak rambutnya kemudian segera mengambil pakaiannya dan bergegas mengenakannya kembali.

Pria itu mengangguk. “Iyalah. Di mana lagi kalau bukan di sini. And thank, untuk semuanya. Kamu memang sangat luar biasa.”

“Sshhhiitt!” pekik Indi seraya menatap nyalang wajah Damian. “Gilak lo, Damian! Gilaaak! Menyetubuhi gue tanpa izin dan sekarang bilang terima kasih?! Sialan, lo!” pekiknya kesal. Kebenciannya semakin besar terhadap lelaki itu sebab telah memperkosanya. Ya. Dia anggap Damian telah memperkosanya karena ia tidak tahu dan tidak mengiayakan ajakan Damian untuk bercinta dengannya.

“Mandi dulu, Indi. Aku nggak akan macem-macem lagi. Cukup semalam saja,” ucapnya kemudian menyunggingkan senyumnya.

Indi melirik malas kepada pria itu. “Gak perlu. Mandi di rumah aja. Gue ada urusan!” ucapnya kemudian mengambil pakaian tersebut dan segera memakainya.

“Mobil gue di mana? Jangan bilang ….” Indi membolakan matanya.

“Di bar. Aku nggak tahu, mobil kamu yang mana. By the way, apa kabar?”

“Gak usah basa-basi, lo. Pertemuan kita cukup sampai di sini aja. Gue nggak mau ketemu sama elo lagi dan lupakan semuanya! Kalau ketemu di jalan, jangan nyapa gue atau apa pun itu!” ucapnya dengan mata menatap nanar wajah Damian penuh amarah.

Damian kembali menyunggingkan senyumnya. “Sampai jumpa lagi, Indi. Aku pastikan, kita akan bertemu lagi, tidak akan lama setelah kamu pulang,” ucapnya kemudian tersenyum menyeringai.

Setibanya di rumah. Dengan langkah yang mengendap-endap, takut ketahuan oleh sang papa karena baru pulang. Ia kemudian segera masuk ke dalam kamarnya dan membuka seluruh pakaiannya. Masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Namun, langkahnya terhenti kala melihat tanda merah di dadanya. Cukup banyak hingga membuatnya memekik hebat.

“Damian sialan! Gila bener ini orang! Arrgghh!” Indi menjambak rambutnya kemudian menghentakkan kakinya hingga masuk ke dalam kamar mandi. Memutar kran shower dan mengguyur tubuhnya.

“Kenapa gue harus ketemu sama dia? Tidur dengan cowok gila macam Damian merupakan mimpi paling buruk yang pernah gue alami,” ucapnya lirih. Sungguh, ia sangat menyesali semuanya lantaran harus melayani pria aneh seperti Damian. Lebih tepatnya diperkosa karena Indi tidak tahu menahu bila dirinya tidur dengan lelaki itu.

“Jangan sampai gue ketemu sama elo lagi, anak sialan!” pekiknya seraya membersihkan tubuhnya dengan sabun agar sisa-sisa sentuhan Damian hilang di tubuhnya.

“Bisa-bisanya dia ninggalin jejak banyak banget di sini.” Indi terus menerus menggerutu kesal kepada Damian.

“Nyesel banget gue mabuk nggak ditemenin, hanya sendirian. Jadinya gini, kan.” Indi mengeluh lesu. Damian merupakan pria yang tidak masuk dalam kategorinya. Jelas sangat membenci dan menyesali kejadian semalam.

Meskipun dia sudah merelakan dan masa bodoh, tetap saja bila meninggalkan jejaknya di tubuhnya membuatnya kesal bukan main.

“Indi?” Panggilan dari Wijaya—sang papa membuat Indi harus menyelesaikan acara mandinya.

Ia kemudian segera menggunakan bathrobe dan menghampiri papanya yang ternyata sudah berada di dalam kamarnya.

“Iya, Pa?” tanyanya seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Hari ini, yaa. Kita bertemu dengan keluarga teman Papa.”

“Heuh? Hari ini? Harus hari ini banget ya, Pa?” tanya Indi panik.

Nasib sial benar-benar sedang menghampirinya. Tidur dengan musuh bebuyutannya, dan sekarang harus bertemu dengan calon yang sudah dipilihkan oleh Wijaya untuknya.

“Iya. Sudah saatnya kamu dan dia bertemu kemudian merencanakan pernikahan ini. Sudahi main sana main sininya, Indi. Kamu sudah dewasa, ingat umur.” Wijaya berucap dengan pelan.

Indi menghela napas kasar. “Tapi, Pa … terlalu dini dan aku belum siap ketemu sama dia. Belum tentu juga dia pria baik-baik. Emangnya Papa yakin, kalau dia jodoh terbaik buat aku?” Indi masih mencoba menolak permintaan papanya itu.

“Ini yang terbaik. Papa yakin dan kamu pasti akan bahagia bersamanya!” ucapnya penuh percaya diri.

Indi menghela napas pelan. ‘Kalau emang dia pria baik-baik, dia yang akan menyesal karena gue baru aja tidur sama Damian, si cowok aneh yang main perkosa gue aja. Duh! Gini amat nasib gue,’ ucapnya dalam hati kemudian menggaruk dengan pelan rambutnya.

“Papa. Kalau nanti dia nggak terima dengan kondisi aku yang tukang mabuk dan segala macamnya, yang malu Papa. Mending aku cari jodoh sendiri deh, Pa. Ya, Pa, yaaa?” Indi memohon agar perjodohan itu dibatalkan saja.

“Dia sudah tahu dunia kamu seperti apa. Makanya Papa sangat senang karena ada pria yang mau menerima kamu apa adanya.”

“Haaah?” Indi terkejut bukan main. ‘Ada yaa, cowok modelan dia?’ ucapnya dalam hati.

Indi kembali menghela napas pelan. “Ya udah, Papa tunggu di luar aja. Aku pakai baju dulu,” ucapnya lemas. Mau tak mau, dia harus menerima perjodohan itu.

“Iya, Nak.” Wijaya menerbitkan senyumnya.

Lima belas menit kemudian, Indi keluar dari kamarnya dan menghampiri sang papa yang sudah menunggunya di ruang tengah. Keduanya langsung keluar dari rumah tersebut dan Wijaya melajukan mobilnya menuju rumah temannya.

“Orangnya kayak gimana sih, Pa?” tanya Indi kemudian.

“Nanti juga kamu tahu.” Hanya itu yang diucapkan oleh sang papa kepadanya.

Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja, mereka akhirnya tiba di rumah tersebut. Indi kembali menghela napasnya dengan pelan. Lalu keluar dari mobil bersama sang papa.

“Bung!” Wijaya memeluk Pradipta—sahabatnya.

“Apa kabar, Wijaya? Hari ini, yaa? Dia sudah tahu?”

Wijaya mengendikan bahunya. “Nggak perlu dikasih tahu, dia sudah paham sendiri.”

“Wow! Good! Baiklah kalau begitu. Aku panggilkan anakku dulu.” Pradipta memanggil sang anak yang baru kembali ke rumah.

Sementara Indi dan Wijaya duduk di sofa ruang tengah. Perempuan itu kembali menghela napasnya seraya melihat-lihat rumah megah tersebut.

“Orang kaya, rupanya,” gumamnya kemudian.

“Hei!”

Suara lembut itu sangat tidak asing di telinga Indi. Dengan cepat ia menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.

Mulutnya menganga, matanya melotot menatap orang yang akan menjadi suami dan katanya sangat menerima dia apa adanya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Balik Kanan Duda

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Tidak Memberi Ampun: Mantan yang Berlutut
9.6
Grace Bennett menyaksikan pengkhianatan suaminya, Adrian Carter, yang berselingkuh di mobilnya sendiri. Bukannya menyesal, Adrian justru menghina pernikahan kontrak mereka. Grace pun membalas dengan tegas: membekukan bisnis miliaran dolarnya dan menceraikannya di depan publik. Meski Adrian berlutut memohon kesempatan kedua, Grace tetap pergi membawa putranya, Ethan. Ia melangkah maju dengan pria lain tanpa menoleh pada masa lalu yang telah tercemar.
Sampul Novel Antara dua Cinta
8.3
Ikatan persahabatan yang semula sangat kokoh kini berada di ambang kehancuran sejak kehadiran seorang wanita misterius. Saat mereka berjuang mewujudkan mimpi besar bersama, konflik perasaan mulai merenggangkan hubungan hingga mereka memilih jalan hidup masing-masing. Ambisi dan cinta menjadi ujian berat yang mengancam segalanya. Akankah mereka berhasil memperbaiki keretakan tersebut dan mengembalikan keutuhan persahabatan yang pernah menjadi kekuatan utama mereka?
Sampul Novel (Bukan) Istri Kontrak Pria Impoten
8.0
Liam Benjamin merasa hancur setelah ditinggalkan kekasihnya akibat rumor impotensi yang menerpanya. Di tengah keputusasaan, ia menyelamatkan Sheeta, seorang wanita hamil yang mencoba mengakhiri hidup di laut. Meski tahu Sheeta mantan PSK, Liam justru mengajaknya menikah kontrak. Namun, Liam sebenarnya pria perkasa yang terbelenggu kutukan masa lalu. Akankah benih cinta tumbuh di balik rahasia dan perjanjian pernikahan mereka yang penuh misteri?
Sampul Novel Jodoh Palsu Sang Alfa, Perang Diam Sang Omega
9.2
Sebagai Omega, aku percaya saat Dewi Bulan menakdirkanku bagi Alpha Baskara. Namun, janin yang kukandung ternyata dianggap aib. Baskara telah mandul demi wanita lain dan menjadikanku bahan taruhan keji. Setelah disiksa oleh Kirana dan dikhianati prajuritnya, hatiku membeku. Di ambang kehancuran, aku menelan ramuan terlarang untuk mematikan benih di rahimku. Ini bukan sekadar rasa putus asa, melainkan awal perang dingin untuk membalas dendam.
Sampul Novel Masa Puber Naldo
9.4
Naldo, putra konglomerat yang kesepian, tumbuh dewasa tanpa kasih sayang ibu. Meski ayahnya, Tuan Anggoro, sangat baik, kesibukan bisnis membuatnya jarang di rumah. Naldo hanya memiliki asisten rumah tangga yang merawatnya sejak bayi. Saat diminta memilih ibu baru, Naldo teringat sosok wanita misterius yang terus muncul dalam mimpinya. Ketika akhirnya bertemu wanita itu di dunia nyata, Naldo bertekad mengejar cintanya meski perbedaan usia menghalangi mereka.
Sampul Novel Terjerat Obsesi CEO Arogan
9.1
Elena hancur setelah dikhianati oleh suaminya. Dalam kepedihan, ia bertemu Karl, pria dari masa lalunya, di sebuah bar. Pertemuan itu berujung pada satu malam yang menjerat Elena dalam obsesi dingin Karl. Sang CEO menuntut Elena bercerai demi memilikinya sepenuhnya. Kini, Elena terjebak antara masa lalu dan hasrat baru yang berbahaya. Haruskah ia melawan tarikan Karl yang posesif atau menyerah pada cinta berisiko yang mengaburkan batas kewarasan ini?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan