Sampul Novel Derita Gadis Ternoda

Derita Gadis Ternoda

8.2 / 10.0
Dalam romance modern Derita Gadis Ternoda, Ana berjuang bertahan hidup di Jakarta setelah diusir karena hamil. Di tengah penindasan, ia terjebak antara bantuan Lukman dan kekejaman Juju, hingga akhirnya bertemu kembali dengan pria masa lalunya. Baca web novel ini selengkapnya.
Ringkasan Derita Gadis Ternoda
Ana adalah gadis polos yang malang. Hidupnya hancur setelah menjadi korban pemerkosaan hingga hamil, yang membuatnya diusir sang ayah. Di Jakarta, ia bertemu Lukman yang baik hati, namun Ana justru mengalami penyiksaan kejam dari Juju, istri Lukman. Di tengah penderitaan dan benih cinta yang mulai dirasakan Lukman padanya, takdir membawa Ana bertemu kembali dengan sosok pria yang dulu menghancurkan kehormatannya. Akankah luka lama itu membelenggu hidupnya?
Baca Selengkapnya

Derita Gadis Ternoda Bab 1

Putra memandang wanita muda di depannya dengan sorot mata menyala. Tak bisa disembunyikannya amarah yang sedang bergemuruh di dada.

Ana, sosok yang menjadi sumber amarah Putra terlihat menangis sesenggukan dalam pelukan Hesti.

"Siapa yang menghamilimu?" bentak Putra. 

Ana masih membisu, hanya isak tangisnya saja yang terdengar bersahut-sahutan dengan isak tangis Hesti.

Seminggu ini Putra dan Hesti curiga pada perubahan bentuk tubuh Ana, terlebih Ana sering mual, dan mengeluh pusing. Tak pernah sedikit pun terpikir kalau anak semata wayang mereka itu sedang hamil, sebab ia belum bersuami. 

Namun sebagai orang tua yang lebih berpengalaman, pastilah mereka mengenali tanda-tanda wanita yang sedang berbadan dua. 

Tadi pagi Hesti dan putra akhirnya membeli testpack dan menyuruh Ana melakukan test.

Hasil testpack tergeletak di atas meja. Dua garis merah yang terpampang di testpack itu membuat mereka semua syok.

"Siapa yang melakukannya?" Putra kembali bertanya, suaranya makin meninggi.

"A-ana nggak tahu, Yah," jawab perempuan berusia sembilan belas tahun itu terbata-bata. Ia sangat takut. Isak tangisnya semakin kencang, membuat pundaknya naik turun tak terkendali.

"Tak tahu kau bilang? Dasar perempuan j@-l@ng!"

Plak! 

Kali ini bukan hanya bentakan saja yang didapatkan Ana, tapi sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Rambutnya juga dijambak oleh Putra. Emosi ayahnya itu sudah di ubun-ubun. Hesti mencoba melerai, tapi ia malah di dorong hingga tersungkur.

"Ayah, jangan kasar pada Ana. Bicaralah baik-baik," rintih Hesti.

"Kau mau membela anak j@-l@ng ini, hah? Ini juga salahmu, tak becus mendidik anak. Ibu macam apa kau ini, bisa sampai kecolongan." Kini Hesti yang menjadi sasaran amarah Putra.

"Jangan salahkan Ibu, Yah. Ibu nggak salah. Ana juga nggak salah. Ana di-per-k*s@ ….” rintihan Ana. Suaranya hampir tenggelam, perkataan itu sulit sekali keluar dari mulutnya.

Ia juga ingin membela Heesti dan tak mau jika Putra malah menyalahkan ibunya itu 

"Dasar perempuan tak tahu malu. Bisa-bisanya kau bilang kalau kau di-per-k*s@ hanya untuk menutupi kelakuan busukmu. Warga kampung Mekar sini semuanya berakhlak. Tak akan ada yang berani melakukan tindakan asusila, apalagi kepadamu. Kau anak seorang tetua di kampung ini. Orang-orang akan berpikir seribu kali melakukannya,” sanggah Putra. Semakin keras ian menarik rambut Ana.

"Demi Tuhan, Ana di-per-k*s@," ucap Ana dengan berderai air mata. Tangannya memegang pangkal rambut yang ditarik oleh Putra.

Bukannya iba, Putra semakin menambah kekuatan tangannya saat mengepal rambut Ana.

"Tolong dengarkan anak kita sekali ini aja, Yah." Hesti berdiri, sekali lagi ia ingin melerai tangan Putra, ia tak tahan melihat Ana meringis kesakitan, tapi malah tendangan yang didapatnya.

"Kalau bukan karena kau yang kegatelan, pasti tak ada yang mau mem-per-k*s@mu." Putra semakin geram. 

"Ana korban, yah. Kenapa ayah tak mau mengerti perasaan Ana. Harusnya ayah bantu Ana mencari keadilan."

"Hal itu tak akan terjadi kalau kau berteriak, lari dan melakukan perlawanan. Kenapa kau diam saja? Apa kau menikmatinya juga, hah?"

Tangan putra yang satunya lagi kini mencekik leher Ana. 

Ana kesulitan bernafas, wajahnya merah padam, dadaknya sesak. Ia kini pasrah pada apa pun yang akan dilakukan Putra.

"Lebih baik kau mati saja!"

"Ayah, hentikan!"

Hesti panik dan tak menyangka kalau Putra tega mencekik darah dagingnya sendiri. Dengan cepat bangkit berdiri dan menggigit lengan Putra. Putra meringis dan kembali menendang Hesti.

"Dasar anak si-al-an. Pergilah dari kampung ini. Kau hanya membuat malu ayah, kau sudah mencoreng nama baik keluarga kita." 

Akhirnya Putra melepaskan kepalan tangannya dari rambut dan leher Ana, lalu menghempaskan putri semata wayangnya itu dengan kasar hingga tersungkur di lantai.

"Kemasi barangmu sekarang. Pergilah ke mana saja kau mau, sebelum warga tahu kalau kau hamil”, lanjutnya lagi tanpa mau memandang Ana.

"Ayah, tolong jangan usir Ana. Kemana Ana akan pergi. Kondisinya sedang hamil. Siapa yang akan mengurusnya? Tolong terimalah keadaan anak kita, Yah." 

Hesti meraung. Ia bersimpuh di kaki Putra, memohon agar Putra memaafkan Ana.

"Lebih baik dia pergi dari kampung ini, atau kubu-n*h dia. Mau ditaruh di mana mukaku, Bu. Aku orang yang dihormati dan dituakan di kampung ini, tapi justru anakku sendiri memberi contoh yang tak baik bagi warga. Dia hanya akan dianggap sebagai pembawa kutuk oleh warga kalau ketahuan hamil tanpa suami. Aku tak sudi punya anak seperti dia."

Putra tak bisa membayangkan jika orang-orang mengetahui hal memalukan ini. Keluarga Putra Setiawan turun temurun telah menjadi contoh dan teladan bagi penduduk kampung Mekar. 

Apalagi empat bulan ke depan pemilihan Kepala Desa dan ia mejadi salah satu kandidatnya. Siapa yang akan sudi memilihnya jika kabar kehamilan Ana tersiar. Mengurus anak saja tak becus, apalagi mengurus warga.

Kampung Mekar pada siang hari memang sunyi dan lengang. Kebanyakan warga sudah berangkat ke sawah. Hanya ada beberapa anak kecil yang bermain dan berlarian, sehingga Putra tak terlalu takut jika ada warga yang mendengar pertengkaran mereka.

"Pasti ada cara lain, Yah. Kita carikan calon suami untuk Ana. Kita nikahkan Ana secepatnya." 

"Kau pikir ada lelaki yang mau menikahi perempuan yang sudah tak suci lagi?"

Ana yang dari tadi diam dan tak berani mengangkat wajahnya kini berjalan mendekati Putra.

"Baiklah ayah. Ana akan pergi dari kampung ini." 

"Ana, jangan gegabah. Kau harus tetap di sini, Nak." 

"Ana akan baik-baik saja, Bu. Benar kata Ayah, Ana sudah buat malu keluarga." 

Segera Ana beranjak ke kamar dan mengemasi pakaiannya. Tak banyak yang ia bawa, hanya satu koper baju dan beberapa perlengkapan lainnya.

"Kalau begitu, kau ke rumah Paman Ardi saja di Padang. Hubungi Paman Ardi. Kau harus ke sana. Janji sama ibu." 

Hesti memberikan secarik kertas berisi nomor telepon, juga sejumlah uang. Ana punmengangguk. 

"Selalu aktifkan nomor hpmu, nak. Kau harus mengabari ibu di sepanjang perjalanan,” ujar Hesti dengan deraian air mata. Ia tak pernah berpisah dari putri kesayangannya itu.

Dipeluknya tubuh Ana erat sekali, tak ingin dilepasnya pelukan itu, rasa-rasanya seakan ia tak bisa berjumpa lagi dengan Ana.

“Ana pamit, Bu,” ujar Ana dengan isakan tangis yang hebat. Ia lalu berjalan mendekati pintu rumah, tempat Putra berdiri.

"Ayah, Ana pamit." Ana bersimpuh di kaki Putra, lalu bangkit berdiri dan pergi meninggalkan rumah sederhana yang menyimpan banyak kenangan indah baginya. 

Rumah sederhana yang tadinya penuh kehangatan dan cinta, tapi kini seakan jadi neraka akibat terbakar luapan emosi dari Putra.

Beribu pertanyaan menggunung di kepala Ana. Kenapa ia bisa mengalami hal sepahit ini. Ia harus menanggung akibat dari kesalahan yang tak pernah dilakukannya. Ia tak bersalah. Ia korban.

Tapi siapa yang mau percaya padanya. Ayahnya sendiri tak percaya dan menganggapnya perempuan j@-l@ng.

Putra dan Hesti memandang kepergian Ana dengan tatapan nanar. Sedikit pun tak pernah terbayang dalam benak mereka hal seperti ini akan terjadi.

Bayangan Ana sudah tak tampak lagi di jalan setapak, tapi Putra masih menatap ke depan, tangannya terkepal kuat. Anak kesayangannya sudah pergi, membawa serta aib yang sama sekali tak mau ditanggungnya. 

Air mata yang dari tadi ditahan Putra akhirnya luruh. Pertahanannya runtuh beserta tubuhnya yang merosot ke lantai, ia pun menangis pilu.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Derita Gadis Ternoda

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Jejak Cinta Terlarang di Kampus Perjuangan
8.0
Di kampus penuh aktivisme, Adrian nekat menjalin asmara terlarang dengan Maya, tunangan Romeo. Meski terpisah jarak, Romeo berupaya menjaga komitmennya di bawah tekanan norma keluarga. Namun, Rina memanfaatkan kekecewaan Romeo untuk menghidupkan cinta lamanya, meski berujung pada luka batin. Saat rahasia terungkap, mereka semua terjebak dalam dilema antara perasaan, idealisme, dan tanggung jawab. Kisah ini mengulas pengorbanan serta pencarian jati diri di tengah konflik cinta yang rumit.
Sampul Novel MISTERI KAMAR ADIK PEREMPUANKU
9.1
Kepergian suamiku yang misterius menyisakan tanda tanya besar, terutama saat suara derit ranjang mulai terdengar dari balik pintu kamar adikku, Ema. Hilangnya lelaki itu terjadi tepat saat aktivitas mencurigakan ini dimulai. Aku pun terjebak dalam kecurigaan mendalam mengenai hubungan gelap yang mungkin tersembunyi di antara mereka. Apakah suara dari kamar Ema adalah kunci untuk mengungkap keberadaan suamiku yang mendadak lenyap tanpa jejak?
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 2
8.1
Permana Brata, putra Prabasari dan Baron Smith, memulai misi baru mencari sang ayah. Berbekal pusaka Pedang Kebenaran Sejati serta teknik Sepuluh Syair Bumi Pertiwi dari Ki Sasmaya, ia menghadapi kerasnya dunia persilatan. Meski lahir dari hubungan gelap, tekadnya tak tergoyahkan. Segala rintangan dan musuh yang menghadang diterjang demi menuntaskan pencariannya. Sebuah petualangan penuh aksi dalam membuktikan keteguhan hati di tengah pahitnya konflik.
Sampul Novel Perangkap Dendam Tuan Miliarder
7.9
Karir Angela Jones hancur seketika akibat skandal besar. Di tengah pelariannya ke Santa Barbara, ia justru bertemu Aaron Carter, pria yang dahulu pernah ia fitnah. Aaron kini telah bertransformasi menjadi miliarder dingin yang haus akan balas dendam. Ia menjerat Angela dalam permainan kekuasaan untuk menebus dosa masa lalunya. Kini Angela terjebak dalam pilihan sulit: melawan dunia yang kejam atau menyerah pada pria yang ingin sekaligus mampu menyelamatkannya.
Sampul Novel Rivalku, Harapan Satu-Satuku
9.2
Didesak ibu memilih tunangan, aku menolak Alexander Adhitama. Di masa lalu, pengkhianatannya begitu kejam; dia memalsukan kematian demi hidup bersama wanita lain, lalu membiarkan teman-temannya menenggelamkanku. Hanya rival masa kecilku, Darrian Kencana, yang tulus menangisi kepergianku. Kini, setelah terbangun kembali di masa lalu, aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama. Aku memilih Darrian, satu-satunya pria yang benar-benar berduka untukku.
Sampul Novel Satu-PD155
9.7
Sam menikahi Sinta demi mengambil ginjalnya untuk Ayu, teman masa kecilnya. Sinta yang hancur setelah tahu dirinya hanya cadangan medis pun memalsukan kematiannya. Usai Ayu sembuh, Sam baru menyadari sifat asli Ayu yang egois dan rasa cintanya pada Sinta. Lima tahun berlalu, Sinta kembali sebagai wanita sukses. Meski Sam memohon ampun, segalanya sirna saat Ayu dipenjara karena jahat. Sam hidup menderita, sementara Sinta meraih bahagia tanpa bayang masa lalu.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan