Sampul Novel Korban Terakhir yang Digambar Ibu adalah Aku

Korban Terakhir yang Digambar Ibu adalah Aku

8.9 / 10.0
Dalam novel misteri Korban Terakhir yang Digambar Ibu adalah Aku, Janice diculik dan diabaikan ibunya sendiri, seorang seniman forensik, demi ulang tahun sang adik. Setelah Janice tewas disiksa, sang ibu harus menggambar sketsa korban dari tulang belulang. Baca novel online menegangkan ini.
Ringkasan Korban Terakhir yang Digambar Ibu adalah Aku
Sebagai seniman forensik kepolisian yang andal, ibu Janice sangat membenci kejahatan. Namun, saat Janice menelepon dalam keadaan darurat, sang ibu mengira itu hanya trik kotor untuk merusak hari ulang tahun adiknya. Penolakan ibu untuk membantu membuat sketsa berujung pada kematian tragis Janice akibat siksaan penculik. Ketika hasil tes DNA keluar, sang ibu yang hancur mencoba menggambar wajah korban dari sisa tulang yang ditemukan. Berulang kali ia mencoba, hasil sketsanya selalu menunjukkan wajah Janice.
Baca Selengkapnya

Korban Terakhir yang Digambar Ibu adalah Aku Bab 1

Ibuku adalah seorang seniman forensik yang paling andal di kantor polisi. Dia tegas, berintegritas, dan sangat membenci kejahatan. 

Namun, ketika menerima telepon darurat dariku, dia malah menegurku dengan tegas, “Kamu jelas-jelas tahu ini hari ulang tahun adikmu yang baru mencapai usia dewasa, tapi kamu malah mau pakai trik kotor ini untuk merusak suasana! Kalau kamu benar-benar diculik, biar saja penculik itu membunuhmu!”

Dia yakin bahwa ini hanyalah lelucon dan menolak datang ke kantor polisi untuk membuat sketsa. Akhirnya, dia melewatkan kesempatan terbaik untuk menyelamatkanku dan aku disiksa hingga mati.

Setelah laporan tes DNA keluar, dia bergegas pergi ke tempat kejadian dengan langkah yang goyah. Berdasarkan tulang-tulangku, dia mulai menggambar sketsaku dengan tangan yang gemetar.

“Ini nggak mungkin adalah Janice! Aku pasti salah gambar!”

Namun, tidak peduli berapa kali dia menggambar, sketsa yang dihasilkannya menampilkan dengan jelas wajahku saat aku meninggal. Ibuku yang selalu membenciku akhirnya meneteskan air mata.

Aku sudah mati. Pakaian bagus yang kukenakan diganti dengan pakaian compang-camping pengemis yang terlalu longgar untukku. Wajahku juga sudah hancur akibat sayatan pisau.

Arwahku melayang di udara dan ditarik kembali ke rumah oleh daya tarik yang kuat. Di ruang tamu, Ibu mendorong sebuah kotak kado besar ke hadapan Jessica dengan susah payah. Kotak kado itu berisi hadiah yang dipersiapkannya dengan sepennuh hati. Nilai semua barang itu tidaklah murah.

Namun, di hari aku mencapai usia dewasa, Ibu bahkan tidak mengucapkan sepatah kata selamat kepadaku. Selama ini, kata-kata yang paling sering diucapkannya padaku adalah, “Kenapa yang mati waktu itu bukan kamu?”

Saat lahir, aku sangat sehat, tetapi kakak kembarku malah tidak dapat bertahan hingga 24 jam. Dokter berkata janin tidak berkembang dengan baik di dalam kandungan sehingga menyebabkan kegagalan organ.

Seorang wanita tua yang berada di ranjang pasien samping menceritakan pengalamannya.

“Bayi perempuanmu yang rebut nutrisi bayi laki-lakimu. Sepanjang jadi bidan di desa selama ini, aku sudah sering ketemu hal kayak begini. Bayi perempuan seperti ini sangat kuat.” Dia mendekat untuk melirikku, lalu tertawa dan melanjutkan, “Lihat putrimu ini. Cantik banget! Putih dan gemuk lagi!”

Ibuku yang bersandar di tempat tidur pun menatapku dengan penuh kebencian yang bercampur dengan kebingungan.

Sementara itu, ayahku langsung murka begitu mendengar hal ini. Dia mengatakan tidak bisa menerima pukulan ini dan bersikeras mau bercerai dengan Ibu. Dia yakin bahwa aku adalah pembawa sial dan akan memengaruhi bisnisnya jika berada di sisinya.

Sejak saat itu, aku pun dilabeli dengan kata “malapetaka” dan “pembawa sial”.

“Ibu, kenapa Kakak masih belum pulang semalam ini? Apa mungkin dia benar-benar diculik?”

Suara Jessica yang bertanya dengan hati-hati menyadarkanku dari lamunanku.

Saat mendengar namaku, Ibu langsung terlihat kesal. Bahkan ada sedikit kebencian yang menghiasi wajahnya. Dia menjawab, “Omongan orang yang suka bohong sepertinya mana bisa dipercaya? Mana mungkin ada penculik yang sudah menculiknya, tapi nggak minta uang. Dia cuma mau aku ke sana dan merusak acaramu. Dasar anak berhati jahat!”

Aku pun tercengang. Ucapan Ibu bagaikan pisau yang menancap di hatiku. Pada saat diculik, aku juga mengira penculiknya menginginkan uang. Namun, dia hanya menekan pisaunya ke leherku dengan sekujur tubuh yang gemetar dan menyuruhku menelepon Ibu.

Setelah yakin Ibu tidak akan datang untuk menyelamatkanku, pria itu tiba-tiba murka. Dia mengambil pipa baja dari samping dan tidak berhenti menghantam kepalaku. Saat aku masih sadarkan diri, dia menggunakan pisaunya untuk mencongkel satu per satu kukuku.

Pada akhirnya, dia juga menggores wajahku hingga rusak. Setelah meninggalkan luka di sekujur tubuhku, dia mencari pakaian pengemis dan menukarnya dengan baju yang kukenakan. Aku tidak akan melupakan apa yang dikatakannya sebelum aku sepenuhnya kehilangan kesadaranku.

Dia menancapkan pisaunya ke jantungku dan berkata, “Punya keluarga, tapi malah nggak disayang. Kamu bahkan nggak sebanding dengan pengemis.”

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Korban Terakhir yang Digambar Ibu adalah Aku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3 Ch. 4 Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Bab
Baca Sekarang
Bagikan