Sampul Novel Perangkap Cinta Tuan CEO

Perangkap Cinta Tuan CEO

8.8 / 10.0
Dalam novel Perangkap Cinta Tuan CEO, Rafael Valentino menuntut Aurora Marvelo membayar utang ayahnya dengan kebebasan. Terjebak dalam misi balas dendam sang miliarder, Aurora harus bertahan di tengah konflik kekuasaan. Baca billionaire romance novels ini untuk mengikuti kisah cinta penuh intrik.
Ringkasan Perangkap Cinta Tuan CEO
Rafael Valentino menyimpan dendam pada Edgar Marvelo yang telah menggelapkan dana perusahaan. Saat Edgar kabur, Rafael mengalihkan kemarahannya kepada Aurora, putri Edgar yang baru pulang dari Paris. Aurora yang tidak tahu apa-apa dipaksa membayar utang ayahnya dengan menyerahkan kebebasannya. Kini ia terjebak dalam kendali sang CEO yang dingin. Akankah hubungan yang berawal dari kebencian dan tekanan ini berubah menjadi cinta di tengah luka masa lalu?
Baca Selengkapnya

Perangkap Cinta Tuan CEO Bab 1

Udara malam terasa lembap, membalut kulit mereka yang berkeringat di dalam kamar. Lampu gantung tembaga menyinari samar dinding bata yang dingin, kontras dengan desahan hangat dua tubuh yang saling menjelajah. Rafael berdiri di pinggir ranjang dengan tatapan gelap, napasnya berat, sementara Aurora terbaring di bawahnya, rambut pirangnya berantakan di atas seprai putih.

Kemeja Rafael sudah tak beraturan, terbuka hingga dada, menampilkan lekuk otot yang tegang. Tangannya menelusuri tulang selangka Aurora, lalu naik ke rahangnya, mengangkat wajah gadis itu paksa agar menatap matanya.

Aurora menahan napas, tubuhnya bergetar antara takut dan rindu akan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Rafael mendekat perlahan, mencium bibirnya dengan tekanan yang tak sepenuhnya lembut, seolah mencampur amarah dengan keinginan yang lama terkubur. Ciuman itu memabukkan membakar syarafnya.

Tangannya yang kuat kini bergerak lebih berani, menyusuri tubuh Aurora seolah menandainya, seolah menuntutnya untuk tunduk. Dan ketika jemari mereka saling mencengkeram, ketika napas mereka berpadu dalam satu desahan tertahan, ketegangan di antara mereka memuncak dalam diam yang menggantung.

Namun tepat saat penyatuan itu nyaris terjadi Rafael berhenti.

Tubuhnya kaku.

Kedua tangannya kini mengepal, dan wajahnya menjauh dari wajah Aurora, menatap ke arah jendela yang tertutup tirai tipis. Napasnya memburu, bukan karena gairah, tapi karena gelombang emosi lain yang tiba-tiba menyesakkan dadanya.

Aurora membuka mata, matanya yang masih berkabut menatap Rafael dengan bingung. "Rafael? Kenapa kau berhenti?"

Rafael menoleh perlahan. Matanya gelap, namun bukan lagi karena hasrat.

"Aku..." Suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Aku tak bisa. Tidak malam ini."

Ia bangkit, mengambil kemejanya yang terjatuh di lantai dan memakainya dalam diam.

Aurora duduk, menarik selimut menutupi tubuhnya, berusaha memahami perubahan yang begitu tiba-tiba.

"Apakah aku melakukan kesalahan?" tanyanya pelan.

Rafael menggeleng. "Bukan kau."

Ia menatapnya lama, seolah mencoba berkata sesuatu yang tertahan terlalu lama. Tapi akhirnya ia hanya berkata:

"Aku hanya... hampir lupa alasan kenapa aku mendekatimu."

Lalu ia melangkah keluar kamar, meninggalkan Aurora dalam keheningan yang kini berubah menjadi tanda tanya besar.

***

Dua bulan lalu, di kantor perusahaannya, Rafael berdiri membeku di depan layar proyektor. Angka-angka laporan keuangan menari-nari dalam grafik yang absurd dan semuanya salah. Celah itu tak akan terlihat oleh sembarang mata, tapi Rafael adalah pria yang membangun sistem ini dari nol. Ia tahu saat sesuatu dipalsukan.

Dan seseorang telah melakukannya berbulan-bulan.

"Cross-check semua akun vendor dalam dua belas bulan terakhir," perintah Rafael kepada sekretarisnya, Nadine, dengan rahang terkunci.

Beberapa jam kemudian, Rafael melihat rekening bayangan yang telah ditemukan. Didalamnya terdapat transfer bertahap, uang mengalir perlahan tapi pasti ke perusahaan fiktif yang kemudian ditelusuri hingga satu nama.

Edgar Marvelo.

Mitra bisnisnya yang sudah ia percaya selama ini, pria berusia 50an yang berdiri bersamanya saat mereka memotong pita pembukaan gedung baru enam bulan lalu. Rafael tak percaya, sampai ia melihat rekaman email terenkripsi, dan persetujuan tanda tangan digital yang tak terbantahkan.

"Kenapa?" gumam Rafael lirih, berdiri di ruang rapat kosong sambil memandangi kota yang perlahan dibungkus senja. "Kita membangun ini bersama."

Namun tak ada jawaban. Edgar sudah kabur ke luar negeri sebelum Rafael bisa menuntutnya. Menghilang, seperti pengecut. Meninggalkan nama baiknya, perusahaannya, dan satu-satunya warisannya di kota ini, Aurora Marvelo.

***

Rumah keluarga Marvelo berdiri seperti istana yang kosong. Dinding putihnya masih bersih, halaman rumput masih terawat, namun tak ada kehidupan nyata di dalamnya selain jejak-jejak masa lalu yang tertinggal. Dan kini, satu-satunya pewarisnya kembali.

Aurora berdiri di tengah ruang tamu yang luas, memandangi foto ayahnya yang tergantung di dinding. Senyum Edgar yang tenang di balik pigura emas kini terasa asing. Ia mencoba tersenyum, tapi hatinya merinding. Terlalu banyak yang berubah. Terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Sejak tiba dari Paris dua hari lalu, Aurora tak pernah sekalipun berhasil menghubungi ayahnya. Telepon mati. Email tak dibalas. Aurora tidak mengerti kenapa tiba-tiba ayahnya memutuskan pembiayaan kuliahnya di Paris. Bahkan dia pulang dengan sisa tabungan yang tak seberapa.

"Ayah, kau di mana?" tanyanya, penuh kesal.

Namun hari itu ia tak punya waktu untuk tenggelam dalam pikiran sendiri. Karena sesaat kemudian, suara mesin mobil terdengar di luar. Dari balik jendela, ia melihat seorang pria keluar dari mobil. Pria itu tinggi, gagah, mengenakan jas gelap dan kacamata hitam.

Aurora membuka pintu sebelum bel sempat berbunyi.

"Siapa ya?" tanyanya waspada.

Pria itu melepas kacamatanya perlahan. Mata cokelat gelapnya langsung terkunci pada wajah Aurora. Pandangannya menusuk. Dalam. Seolah mencoba menelanjangi jiwanya.

"Aurora Marvelo?" tanyanya tenang.

"Ya."

"Aku Rafael Valentino."

Aurora terdiam. Nama itu familiar. Sangat familiar. Ia pernah mendengarnya dalam satu percakapan telepon ayahnya, atau mungkin dari sebuah artikel bisnis yang samar ia baca. Tapi yang ia ingat pasti Rafael Valentino bukan nama kecil. Rafael adalah pria penting. Seseorang yang punya kuasa.

Dan dari tatapannya, Aurora tahu... kedatangannya bukan untuk bersilaturahmi.

"Aku datang bukan untuk basa-basi," lanjut Rafael sambil melangkah masuk tanpa diundang. "Kita perlu bicara. Tentang ayahmu."

Aurora menutup pintu perlahan, membiarkan pria itu masuk ke dalam rumahnya atau lebih tepatnya, rumah ayahnya. Ia mengikuti Rafael ke ruang tamu, lalu duduk berhadapan dengannya.

"Jika kau tahu di mana ayahku, tolong katakan padaku," ucap Aurora akhirnya. "Aku sudah mencarinya berminggu-minggu."

Rafael mendengus pelan, mengejek. "Tentu saja kau tidak akan tahu."

Aurora menatapnya bingung. "Apa maksudmu?"

Rafael bersandar, menyilangkan kaki dan menatapnya tanpa senyum. "Ayahmu mencuri uangku. Meninggalkanku dengan kehancuran. Dan dia menghilang seperti pengecut. Sekarang, dia meninggalkanmu di sini di rumah mewah hasil uang kotor."

Aurora membeku. "Apa maksudmu uang kotor?"

"Jangan pura-pura tidak tahu, Aurora." Suaranya menjadi lebih tajam. "Kau wanita cerdas. Tapi jangan bodoh soal bisnis ayahmu. Dia menipuku. Mengambil jutaan dolar dari merger perusahaan kami, memalsukan dokumen, dan melarikan diri. Sekarang, dia mewariskan semua ini padamu. Termasuk... utangnya."

Aurora bangkit berdiri, suara gemetar. "Aku tidak tahu apa pun tentang itu. Aku tidak pernah terlibat dalam bisnis ayahku. Dia bahkan jarang bercerita!"

"Tapi kau tetap pewarisnya." Rafael berdiri pula, kini berhadapan langsung dengannya. Hanya beberapa inci memisahkan mereka. "Dan sebagai anak yang baik... kau akan membayarnya."

"Dengan apa?" desis Aurora. "Aku tidak punya uang sebanyak itu."

Rafael menyeringai pelan, gelap dan tajam.

"Ada banyak cara untuk membayar. Dan kau akan tahu satu per satu, Aurora Marvelo."

Aurora menahan napas. Matanya membulat, memandang Rafael yang kini berdiri begitu dekat. Aura lelaki itu seperti badai, dingin dan tak tertebak. Tapi Aurora bukan tipe wanita yang mudah diintimidasi, meskipun seluruh tubuhnya menggigil, ia tetap mengangkat dagu dengan penuh harga diri.

"Bagaimana jika aku menolak?" tanyanya, suaranya pelan namun jelas, seperti tantangan.

Rafael tidak langsung menjawab. Ia menatapnya lama, seolah ingin memastikan bahwa Aurora benar-benar tak tahu apa-apa. Lalu perlahan, senyumnya tumbuh. Tapi bukan senyum ramah. Itu adalah senyum milik seorang pria yang terbiasa menang dalam segala bentuk permainan kotor.

"Kau pikir kau punya pilihan?" balas Rafael, suaranya rendah, nyaris berbisik namun menggema seperti dentuman. Ia melangkah lebih dekat hingga Aurora hampir terdorong mundur.

Bersambung ...

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Perangkap Cinta Tuan CEO

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Yang Di hina Miskin Jadi Kaya
8.0
Nur sering dipandang sebelah mata oleh keluarga suaminya, Andi, karena latar belakangnya yang sederhana. Luka hati akibat hinaan tersebut memicu tekad kuat dalam diri Nur untuk membangun bisnis sendiri dari nol. Kerja kerasnya membuahkan hasil hingga ia menjadi pengusaha sukses yang bergelimang harta. Namun, di puncak kejayaan materi yang telah ia raih, Nur justru harus menghadapi kenyataan pahit berupa pengkhianatan dari orang yang ia percayai.
Sampul Novel Cinta Lima Tahun, Hancur oleh Sebuah Panggilan
8.6
Pernikahan Anisa dan Erlangga hancur saat Citra, mantan kekasih Erlangga, kembali dengan amnesia. Erlangga memaksa Anisa berpura-pura menjadi kekasih kakaknya, Laksmana, demi Citra. Namun, Anisa menyadari bahwa dia hanya dianggap sebagai cadangan yang penurut. Luka hati berubah menjadi dendam membara. Anisa memutuskan menikah dengan Laksmana secara nyata dan menuntut Erlangga menjadi wali nikahnya di pelaminan. Sebuah rencana pembalasan yang dingin pun dimulai.
Sampul Novel Cintanya Bersinar Dalam Kegelapan
9.4
Di balik kesuksesan Sienna, Julian hanyalah sosok terabaikan yang pernah mencuri ciuman pertamanya dalam kegelapan. Saat hidup Sienna hancur, Julian pulang demi melihat wanita itu terpaksa menerima pinangan pria lain. Namun, ketika Sienna berada di titik terendah, Julian telah menjelma menjadi sosok berkuasa yang siap melindunginya. Lewat ajakan nikah yang tegas, ia membuktikan bahwa tak ada pria lain yang mampu mencintai Sienna sedalam dirinya.
Sampul Novel Gelora Berbahaya Sang Pengacara
9.8
Demi melunasi utang orang tuanya kepada mucikari, Madona nekat menjebak pengacara bernama Ardan demi uang 500 juta rupiah. Namun, rencana tersebut berbalik menjadi petaka bagi Madona saat video skandal mereka justru membawanya ke dalam masalah besar. Alih-alih mendapatkan harta, ia justru terkurung di kediaman Ardan. Di tengah situasi penuh tekanan ini, akankah benih cinta mulai tumbuh, ataukah hanya rasa benci yang akan mewarnai hubungan mereka?
Sampul Novel Janji untuk Berpisah
8.1
Vivian datang ke kantor Darren untuk meminta tanda tangan kontrak penting. Sebagai kekasih yang biasa mengabaikan formalitas, ia sempat ragu sebelum akhirnya mengetuk pintu. Namun, pemandangan di dalam menghancurkan hatinya. Ia mendapati Darren sedang bermesraan dengan Khloe yang tengah merapikan dasinya di bawah sinar matahari. Suasana intim itu membuat kata-kata Vivian tercekat saat Darren dan Khloe menoleh, menyadari kehadirannya yang tiba-tiba.
Sampul Novel Ketika Cinta Pertama Berujung Penderitaan
8.1
Laila terjerumus dalam pergaulan bebas yang menghancurkan masa depannya. Gadis polos ini harus menanggung beban berat saat terpaksa melahirkan buah hatinya sendirian di sebuah gedung tua yang tidak layak. Kini, hidupnya dipenuhi penyesalan dan perjuangan keras melawan stigma buruk masyarakat. Sebagai ibu muda, Laila berupaya keras melindungi anaknya sambil mencari cara untuk menyembuhkan luka batin. Mampukah ia bangkit dari masa kelam dan meraih kebahagiaan sejati?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan