Sampul Novel SUAMIKU SEORANG PENDUSTA.

SUAMIKU SEORANG PENDUSTA.

7.8 / 10.0
Kinanti harus menyelamatkan warisan ayahnya dalam SUAMIKU SEORANG PENDUSTA. Di balik kedok billionaire romance novels, Bramasta bersekongkol dengan Neni untuk menguasai harta dan menghabisi keluarga Kinanti. Temukan pengkhianatan ini dalam romance novel penuh intrik di platform web novel.
Ringkasan SUAMIKU SEORANG PENDUSTA.
Kinanti Hans, sang pewaris tunggal konglomerat, terpaksa menikahi Bramasta demi menyelamatkan aset ayahnya. Namun, cinta tulus yang ia yakini selama dua belas tahun hanyalah tipu muslihat. Bram ternyata berkhianat dengan menikahi Neni, sahabat Kinanti sekaligus mantan kekasihnya. Demi menguasai harta, mereka bersekongkol menghabisi nyawa anak dan ibu Kinanti secara licik. Kini, Kinanti menjadi target terakhir dalam rencana keji suaminya yang penuh dusta itu.
Baca Selengkapnya

SUAMIKU SEORANG PENDUSTA. Bab 1

"Siapa lagi yang mau pesan? Ini ada berlian murah, model terbaru!" suara Rita sebagai bendahara dalam arisan grup Rumpis dengan membuka kotak perhiasan berwarna merah beludru sebesar kotak kue. Ia memperlihatkan sebuah kalung bermata berlian.

Aku duduk diam, di sudut ruangan rumah Nora sebagai ketua arisan Rumpis. Aku hanya memandang teman-teman arisan yang berusaha mencoba perhiasan secara bergantian.

"Halo Jeng Neni, pengantin baru nggak ingin membeli perhiasan terbaru?" tanya Rita tersenyum memandang Neni.

Neni yang merasa terpanggil tersenyum segera mengarahkan pandangannya ke arah Rita. "Maaf Bu Rita, suami saya sudah membelikan hadiah," ucapnya dengan sopan dan melontarkan senyum khas.

Aku tersentak saat mendengar percakapan antara Rita dan Neni. Hatiku bertanya-tanya hingga berpikiran menanyakan pada Ratih yang duduk di sebelahku.

"Lho Bu, apa Mbak Neni menikah? Kapan? Kok saya nggak diundang?"

Ratih mengernyit kan dahinya menatapku dengan gugup.

"Ooo iya Jeng, tapi memang Jeng Neni tidak menyebar undangan, ia nikah diam- diam. Hanya ibu-ibu yang mengetahui saja yang datang."

Aku bingung, seribu pertanyaan singgah dalam pikiranku. Dengan tak taunya aku dalam pernikahan Neni yang merupakan teman dekatku.

Serta tak ada pemberitahuan ataupun undangan padaku.

Padahal ibu- ibu arisan tau, akulah orang yang paling dekat dengan Neni dibanding ibu- ibu arisan lainnya.

Apalagi setiap kali ada teman yang ingin mengadakan acara, pasti diposting di dalam grub whatsapp.

Mereka dengan antusias merundingkan pakaian apa yang harus mereka kenakan nanti? Warna yang sama atau tidak? Di mana harus berkumpul? Tapi kenapa di grub juga sepi tanpa ada pemberitaan.

Nita juga begitu, padahal berangkat dan pulang arisan selalu bersama naik mobilku. Tapi Nita tidak mengatakan apa-apa kepadaku.

Rasa penasaranku muncul.  Aku segera berdiri, melangkah mendekati tempat duduk Neni.

Kebetulan di samping Neni ada kursi kosong.

"Ya Allah Mbak, aku nggak tau kalau Mbak Neni menikah. Kapan Mbak? Aku kok nggak di undang?"

Kuhempaskan tubuhku di atas kursi dan kugeser kursinya agak mendekat pada Neni.

Neni tampak gugup, ia berusaha tersenyum membalas pertanyaanku.

"Tidak apa-apa Mbak? Acaranya sederhana kok. Sebenarnya saya nggak mengundang siapa-siapa Mbak? Ibu-ibunya saja yang tiba-tiba datang!" ucap Neni yang usianya lebih muda dari usiaku. Dan masih dikaruniai anak satu perempuan yang baru berumur dua tahun. Ia menjanda satu tahun yang lalu sebab suaminya meninggal mendadak.

Aku pun berkali-kali mengucapkan maaf. Dan hari ini juga aku berencana hendak ke rumahnya sekedar ingin menebus kesalahan dengan tidak hadirnya dalam pernikahan Neni.

Namun Neni menolaknya secara halus dengan alasan ia hendak pergi bulan madu ke Bali.

Akupun menyadari hal itu. Yang menjadi ganjalan hatiku. Neni begitu baik sama aku.

Bahkan waktu aku punya hajatan khitanan Jenar anakku, ia merelakan utuk bermalam di rumahku selama dua hari untuk membantuku menyiapkan acara itu hingga selesai.

Akupun  sering berbagi kebahagiaan menceritakan Mas Bram yang sangat memperhatikan aku. Dan Neni juga menyanjung kesetiaan Mas Bram.

Pikiranku tetap tak enak. Hingga perjalan pulang otakku terus berpikir soal tidak taunya aku tentang pernikahan Neni.

Nita yang duduk di sampingku saat di dalam mobilku, aku cerca dengan berbagai pertanyaan.

"Bu Nita, kenapa Mbak Neni menikah gak memberitahuku? Padahal Mbak Neni itu sudah kuanggap seperti saudara sendiri."

Nita menjawabnya dengan enteng.

"Ya kapan- kapan Jeng Kinan bisa datang sendiri ke rumah Jeng Neni. Waktu masih panjang, gak usah terlalu dipikirkan."

Aku mangut- manggut membenarkan ucapan Nita.

Tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri, dalam benakku merasakan kekecewaan yang mendalam. Dan bertanya- tanya tak diundangnya aku dalam acara penting.

Padahal dua hari yang lalu Neni sempat chatingan sama aku. Tapi tak sedikitpun Neni menyinggung soal pernikahan. Bahkan Neni tak pernah menceritakan calon suaminya. Neni cenderung tertutup walau aku sama Neni sering ngobrol. Malahan aku sering mengajaknya ke restoran makan bersama dengan Mas Bram dan belanja bareng.

Neni sudah seperti adikku sendiri sebab aku merasa tak punya saudara.

Timbul rasa penasaranku dan ingin tau siapa suami Neni. Sebab selama ini Neni tak pernah membicarakan soal calon suaminya.

"Suaminya Mbak Neni itu orang mana sih Bu, aku kok gak pernah dengar dia punya calon suami? Dia juga gak pernah cerita sama saya?"

Nita yang hadir waktu acara pernikahan Neni dengan antusias menceritakan

kalau suami Neni itu pengusaha muda yang sukses, orang terpandang. Duda tanpa anak walau usianya terpaut delapan tahun lebih tua dibanding usia Neni.

"Tapi waktu ibu- ibu kesana, tidak bertemu suaminya. Suaminya kebetulan barusan keluar ada kepentingan keluarga," jelas Nita.

Mendengar cerita dari Nita aku ikut merasa bahagia, bagaimanapun juga Neni aku anggap adikku.

Aku tak mempunyai sedikitpun rasa kesal walau dalam pernikahannya aku tak diberitahu. Aku hanya bisa berpikir, Neni memang sengaja tak menyebar undangan atau memberitahu siapapun sesuai perkataannya tadi.

"Ya, mungkin itu sudah jodohnya Mbak Neni. Aku juga turut senang Bu Nita?" ucapku dengan fokus mengendarai mobil.

"Tapi dengar-dengar anak jeng Neni itu juga anak hasil dari suami yang sekarang lho, Jeng. Jadi sebelum suaminya meninggal Jeng Neni itu sudah selingkuh duluan!"

"Ooh ya, benarkah itu Bu?" ucapku agak terkejut dan hampir tak percaya,

Hingga sampai di rumah kata-kata Nita masih terngiang di telingaku.

Cepat-cepat aku turun dari mobilku setelah kunci mobil aku serahkan Dodi satpam rumahku untuk memasukkan ke garasi mobil. Itu sudah menjadi kebiasaan Dodi.

Langkah kakiku kupercepat masuk rumah, untuk menemui suamiku dan menceritakan tentang Neni.

Aku tarik gagang pintu kamarku. Aku tau kalau suamiku sudah pulang sebab pertama aku masuk halaman rumah kulihat mobil suamiku sudah bertengger di halaman.

"Lho sudah pulang, Sayang?" Tanya Bramasta suamiku yang mana aku memanggilnya mas Bram.

Aku bengong saat melihat suamiku memasukkan pakaian ke dalam koper. Belum juga aku menjawab pertanyaannya. Berbagai pertanyaan aku lontarkan pada Mas Bram.

"Mas mau kemana? Kenapa bawa pakaian banyak? Dan kenapa tidak memberitahu aku sebelumnya kalau Mas hendak ke luar kota?"

Mas Bram tersenyum mendekati aku. Sebuah kecupan hinggap di keningku.

"Aku harus ke Singapura Sayang? Ada acara mendadak, tentang perusahaan kita. Jadi aku tak sempat memberitahu kamu?"

"Kenapa mendadak Mas? Bukankah kemarin hampir seminggu Mas Bram sudah pergi ke Surabaya? Kok bukan asistennya saja yang berangkat!" protesku dengan menghempaskan tubuhku ke pinggiran ranjang, kutunjukkan rasa kesalku di depan Mas Bram.

"Nggak lama Say, cuma satu minggu. Kamu pesan apa?" rayu Mas Bram lembut, tangannya mengusap- usap rambutku.

Aku hanya menggelengkan kepala. Aku percaya penuh kalau Mas Bram laki-laki setia. Ia juga perhatian sama Jenar putra satu-satunya. Apalagi apapun yang aku minta Mas Bram selalu menurutinya.

"Mas, Mbak Neni menikah. Tapi kenapa gak memberitahu kita?" tanyaku memandang Mas Bram yang melangkah hendak ke kamar mandi dengan meraih handuk.

Mas Bram tampak kaget. Ia memandangku. "Mbak Neni teman arisan kamu? Yang sering kamu ajak jalan- jalan itu?"

"Iya?" jawabku singkat.

Mas Bram hanya manggut- manggut tampak cuek. Ia melangkah masuk ke kamar mandi, tanpa merespon ucapanku.

Pikiranku masih terbawa tentang Neni yang tidak mengundangku dalam pernikahan. Dalam hatiku sangat kecewa.

Seribu pertanyaan terus bergelayut dalam otakku dengan meraba- raba mungkin aku ada salah dengan Neni. Namun pikiranku tak menemukan titik temu.

Tiba-tiba terdengar dentingan ponsel chat masuk dari ponsel suamiku yang tergeletak di meja.

Aku malas untuk merespon, paling dari teman bisnisnya. Toh aku jarang membuka ponsel Mas Bram. Menurutku itu sebuah privasi. Apalagi aku percaya penuh siapa Mas Bram, tak mungkin Mas Bram berbuat aneh- aneh.

Namun tiba-tiba pikiranku berubah, rasa ingin tau dan penasaran untuk mengetahui siapa yang chat suamiku. Apalagi dengan keberangkatannya ke Singapura.

Aku berdiri, kuraih ponsel mas Bram dan kubuka layar berwarna biru. Beruntung aku mengetahui kunci ponsel mas Bram hingga dengan mudah aku membuka ponsel mas Bram.

"Andre?" gumamku, saat melihat nama yang tertera dalam ponsel itu. Aku mengenal Andre orang kepercayaan Mas Bram.

Aku hendak meletakkan kembali ponsel Mas Bram. Sebab selama menikah aku tak pernah membuka isi ponsel Mas Bram.

Namun baru saja ponsel hendak aku letakkan, sepintas aku melihat fto profil yang tertera pada nomor ponsel Andre. Seorang wanita menggendong

anaknya yang masih kecil.

Aku berpikir seperti nya aku pernah tau profil ini. Rasa penasaran untuk membuka profil itu kembali menguak.

Profil aku buka dan aku zoom hingga tampak jelas siapa pemilik nomor yang bernama Andre.

Mataku terbelalak. Jantungku berdetak kencang saat melihat

fto seorang wanita menggendong anak perempuan imut, lucu, cantik.

Fto itu tak asing buatku sebab aku juga mempunyai nomor whatsapp nya.

Bersambung.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi SUAMIKU SEORANG PENDUSTA.

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Gairah Liar Dibalik Jilbab
8.7
Suasana menegang saat Arman menunjukkan hasrat terpendamnya sebelum berangkat ke Jakarta. Sang ibu terkejut ketika putranya itu mendesak dan menciumnya di atas ranjang. Meski sempat menolak dan mengingatkan tentang dosa serta hubungan darah mereka, sentuhan lembut Arman justru membangkitkan gairah yang belum pernah ia rasakan dari suaminya. Perlawanan sang ibu perlahan melemah saat ia mulai terhanyut dalam sensasi nikmat yang diberikan oleh anaknya sendiri.
Sampul Novel Hasrat Membara Bos Baruku
9.5
Chika memulai karier barunya sebagai asisten Jack Jeagerjaques, seorang penulis novel roman ternama. Namun, ia justru menyaksikan sang bos sedang memadu kasih di dapur saat pertemuan pertama mereka. Insiden mengejutkan itu membuat Chika melabeli Jack sebagai pria mesum yang berbahaya. Kini, Chika harus ekstra waspada menjaga jarak agar tidak terjerat pesona maskulin Jack, atau ia akan menjadi target nafsu sang penulis berikutnya yang penuh gairah.
Sampul Novel Hasrat Nikmat Perselingkuhan
9.7
Zhea merintih dalam gairah yang memuncak, meremas dadanya sendiri sambil menanti penetrasi dari suaminya, Muchlis. Meski kulit putih dan tubuhnya sudah siap menerima sentuhan intim, Muchlis yang berusia 34 tahun justru mengalami kendala seksual. Alat vitalnya tak kunjung menegang meski Zhea sudah sangat mendamba. Dalam kekecewaan yang tertahan, Zhea akhirnya hanya bisa pasrah dan membiarkan suaminya sekadar bergesekan demi mencapai kepuasan sepihak di ranjang mereka.
Sampul Novel KALIAN SIAPA?
8.2
Amelia adalah pewaris kaya yang kondisi mentalnya hancur akibat penghinaan dari keluarga palsu di tengah kebohongan besar. Di sisi lain, Bima mengalami keterpurukan setelah dikhianati istrinya sendiri. Pertanyaan mengenai identitas diri menghantui Amelia dalam pencarian jati diri dan cinta tulus. Akankah takdir menyatukan dua jiwa yang terluka ini untuk mengungkap kebenaran, menyembuhkan luka masa lalu, serta menjalin ikatan sakral yang sejati?
Sampul Novel Pernikahan Tanpa Cinta 21+
9.7
Suasana makan malam yang tenang mendadak mencekam saat Tasya memberanikan diri mengungkap rahasia besar kepada suaminya. Dengan nada bergetar, ia mengaku tengah mengandung selama dua bulan. Alih-alih disambut kebahagiaan, pengakuan itu justru memicu ketegangan luar biasa. Radit yang biasanya dingin hanya terpaku dalam kebingungan dan keraguan. Hingga akhirnya, sebuah pertanyaan tajam keluar dari mulut Radit yang mempertanyakan siapa ayah dari janin tersebut.
Sampul Novel Selingkuh Sebelum Akad
8.2
Impian Feya untuk membangun mahligai rumah tangga yang indah seketika hancur berkeping-keping. Pengkhianatan menyakitkan sang tunangan tepat sebelum hari pernikahan memaksa hubungan mereka berakhir tragis. Kini, Feya berdiri di persimpangan hidup yang sulit. Mampukah ia merelakan masa lalu dan melangkah maju mencari kebahagiaan baru? Ataukah rasa sakit hati yang mendalam akan mendorongnya untuk melakukan aksi balas dendam yang setimpal?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan